Prok, prok, prok. Suara terompah itu membahana seiring dengan senyuman kakek. Kakek sangat berterima kasih kepada Asri, cucunya yang telah menghadiahinya sebuah terompah manis berwarna merah pada hari ulang tahunnya.
Sayang, hal itu tinggal kenangan. Tepat seminggu setelah ulang tahunnya, kakek meninggal karena penyakit jantung yang telah lama dideritanya. Hal itu tentu menyisakan kesedihan yang mendalam di hati Asri.
Terompah merah yang masih tampak baru itu seakan mematung di sisi jendela ketika Asri memandangnya. Tak tahan akan kenangan bersama kakek yang selalu muncul saat melihat terompah itu, akhirnya Asri memilih untuk memberikannya kepada seorang tukang loak yang kebetulan berhenti di depan rumahnya. Tukang loak itu tersenyum penuh simpati kepada Asri ketika melihat terompah yang masih terlihat baru itu.
Di rumahnya, si tukang loak membersihkan terompah yang didapatkannya dari Asri, sekadar untuk menghilangkan debunya. Setelah bersih, tukang loak itu memberikannya kepada sang istri yang sedang memasak lauk seadanya untuk makan siang. Sang istri menerima pemberian tukang loak sebagai hadiah ulang tahun dengan senyuman penuh rasa terima kasih.
Esoknya, ketika fajar mulai menyingsing, matahari tampak malu-malu bersembunyi di balik awan hitam, istri tukang loak itu berbelanja. Ada seseorang yang mengambil dompet yang semula berada di tas jinjingnya yang resletingnya terbuka.
Pencopet itu lari sambil menyeberangi jalan raya demi menyelamatkan dompet hasil “kerja”-nya itu. Tentu saja istri tukang loak mengejarnya. Tapi nahas, sebuah truk yang tengah melaju kencang menabraknya.
Orang-orang yang berada di sekitar jalan itu menutup mata demi tidak menyaksikan kejadian tragis yang merenggut nyawa perempuan tak berdaya itu. Sepasang terompah yang dikenakan istri tukang loak itu tergeletak di jalan raya tanpa pecah sedikit pun. Terompah tergeletak di samping serpihan-serpihan tubuh perempuan malang itu.
Sementara tukang loak yang merasa khawatir istrinya tak kunjung datang itu mencari istrinya ke tempat istrinya biasa berbelanja. Kemudian, mata tukang loak itu terbelalak melihat terompah yang dikenalnya tergeletak berasma serpihan-serpihan tubuh serta potongan baju cokelat pudar yang tadinya dikenakan istrinya.
Tukang loak itupun berlari ke tepi jalan tempat terompah itu tergeletak. Ia memeluk terompah itu sambil mencucurkan air mata, menangisi kepergian istri yang selama ini menjadi satu-satunya teman hidupnya.
Tubuh tukang loak itu lunglai tak berdaya. Sementara air mata terus bergulir membasahi terompah yang masih terus dipeluknya itu. Tak tahan, tukang loak itupun membuang terompah ke tempat sampah.
Selang beberapa hari, aada sekelompok anak jalanan yang bersenda gurau. Tawa terdengar di antara mereka. Tertarik dengan terompah di tempat sampah, salah satu anak jalanan itu mengambilnya. Kemudian, ia meneruskan canda tawa dengan teman-temannya.
Sesampainya di rumah, Jamin, anak yang memungut terompah itu, langsung membersihkan terompah penuh debu itu. Sesudah itu, dibungkusnya dengan kertas kado bekas yang juga dipungutnya dari tempat sampah.
Setelah terompah itu terbungkus rapi, dia tersenyum riang dan memberikan terompah itu kepada ibunya yang tengah sakit keras. Ibunya senang menerima terompah itu. Tetapi, beberapa saat kemudian, ibunya mengembuskan nafas terakhir.
Jamin yang kaget mendengar suara terompah jatuh langsung berlari ke kamar ibunya. Jamin melihat ke arah ibunya, terduduk, dan menangis.
Selesai menghadiri pemakaman ibunya, ia membuang terompah itu jauh-jauh dengan perasaan campur aduk. Berlutut, sambil memukul-mukul jalan raya yang keras dan panas dengan tangannya.
Kini, tak ada yang dapat dilakukannya. Ibu yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya telah tiada. Semua harapan yang dulu bersemi, lenyap. Disapu bencana bagaikan angin yang merontokkan bunga-bunga yang tengah bersemi.
Sementara sepasang terompah itu hanyut terbawa aliran sungai. Menyimpan duka yang sangat dalam dari orang-orang yang sebelumnya pernah menggunakannya. Seorang pemancing ikan menemukannya. Akankah kisah menyedihkan itu terulang kembali?
Cerpen oleh: Ilma Mufidah, siswa SMPN 12 Surabaya.







1 Comment by: sa from Netherlands
8 May 2005, 4:26 pm
Firefox 1.0.3 on
Windows XP
Using
terompah = klompen nya orang londo?
2 Comment by: gani from Hong Kong
8 May 2005, 5:11 pm
Firefox 1.0.3 on
Linux
Using
Anak SMP bisa bikin cerita sedemikian memilukan, inspirasinya darimana yah
jangan2 posting ini masih berhubungan ama posting sebelumnya
Btw skrg buat komen pake autentikasi image-based, aku ga bisa browse sini pake lynx lagi
3 Comment by: yonky from Singapore
8 May 2005, 7:20 pm
Firefox 1.0.3 on
Windows Server 2003
Using
#1. hu uh kali
#2. sorry yah, soalnya takut kena spam juga punyaku
4 Comment by: loper from Singapore
8 May 2005, 10:11 pm
Opera 7.54 on
Windows XP
Using
serem ..
5 Comment by: Sy41ful from Malaysia
9 May 2005, 9:15 am
Opera 8.0 on
Windows XP
Using
Wah.. sedih banget ni cerita… benar-benar tragis.. Puaka juga tuh trompah.. kenapa nggak dibakar aja yah..
Moral dari cerita ini:
sebenranya trompah adalah trompah.. namun ajal dan maut yang menimpa si pemakenya sudah ketentuan dari yang di atas.. cuma trompah hanyalah sesuatu benda yang mengaitkan dengan kematian…
6 Comment by: gone-zhar from Indonesia
10 May 2005, 9:22 am
Internet Explorer 6.0 on
Windows Server 2003
Using
terompah itu semacam sandal kan ?
7 Comment by: yonky from Singapore
11 May 2005, 8:00 pm
Firefox 1.0.2 on
Windows XP
Using
#6. betul
8 Comment by: linda from Indonesia
12 May 2005, 8:13 am
Firefox 1.0.1 on
Windows XP
Using
terompah itu apa sih???
9 Comment by: yonky from Singapore
12 May 2005, 2:21 pm
Opera 7.54 on
Windows XP
Using
#8. terompah itu mungkin yg di jadiin “mas kawin” itu kali yah