Siapa sangka cairnya salju yang menutupi Pegunungan Himalaya dapat mengubah rantai makanan pada lautan yang ribuan mil jauhnya? Mengherankan memang, namun itulah fakta yang diungkap dalam jurnal Science edisi 308 yang terbit 22 April lalu.
Berdasarkan studi yang dilakukan dengan dana dari NASA, diketahui bahwa penurunan lapisan salju di Asia Barat Daya dan Pegunungan Himalaya memberikan kondisi yang cocok untuk ledakan pertumbuhan tumbuhan laut di Laut Arab. Berkurangnya lapisan salju memicu perbedaan temperatur dan sistem tekanan antara sub-benua India dan Laut Arab.
Perbedaan tekanan menimbulkan angin musim semi yang mengaduk air laut di bagian barat Laut Arab. Akibatnya, phytoplankton yang merupakan pusat rantai makanan di laut, tumbuh pesat.
Joaquim Goes, peneliti senior di Bigelow Laboratory for Ocean Sciences di Maine, mengambil data dari OrbImage dan satelit Sea-viewing Wide Field-of-view Sensor (SeaWiFS) NASA. Goes menunjukkan, konsentrasi phytoplankton di bagian barat Laut Arab meningkat sebanyak 350 persen selama 7 tahun terakhir.
“Perubahan iklim dan pemanasan global telah mengurangi lapisan salju di wilayah Eurasia, terutama di Himalaya,” kata Goes. Peneliti yang memimpin studi ini melanjutkan, “Peningkatan jumlah phytoplankton di Laut Arab merupakan konsekuensi dari perubahan ekosistem di Eurasia.”
Goes menjelaskan, saat salju musim dingin dan semi berada dalam tingkat rendah di Eurasia, sinar matahari cenderung diserap bumi daripada dipantulkan kembali ke angkasa. Hasilnya, daratan menjadi lebih panas pada musim panas. Dan, perbedaan temperatur di permukaan air di Laut Arab dan sub-benua India menjadi lebih besar.
Perubahan temperatur akan menyebabkan tekanan di sub-benua India lebih rendah dan lebih tinggi di Laut Arab. Sehingga, angin bertiup dari bagian barat Laut Arab, membawa air hujan ke sub-benua. Di bagian barat Laut Arab, angin tersebut menyebabkan lapisan air yang kaya nutrisi naik ke permukaan. Kondisi ini sangat ideal bagi pertumbuhan phytoplankton setiap musim panas.
Sejak 1997, berkurangnya salju semakin memperlebar perbedaan temperatur di daratan dan lautan selama musim panas. Akibatnya, angin yang bertiup di Laut Arab menyebabkan terjadinya ledakan pertumbuhan phytoplankton di pantai Somalia, Yaman, dan Oman.
Menurut Goes, ledakan jumlah phytoplankton membuat makhluk laut takkan kekurangan makanan. Namun, bila hal itu terus terjadi, kerusakan ekosistem takkan terelakkan. Karena, peningkatan jumlah phytoplankton akan mengurangi jumlah oksigen di air dan akhirnya populasi ikan akan berkurang.
Air yang kekurangan oksigen merupakan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan bakteri denitrifikasi. Bakteri ini akan mengubah nitrat dalam air laut menjadi nitrous oxide, yang lebih dikenal dengan gas tertawa. Nitrous oxide adalah salah satu gas rumah kaca yang 310 kali lebih potensial mengakibatkan global warming dibandingkan karbon dioksida. Jadi, bisa dibayangkan betapa panasnya bila phytoplankton menutupi seluruh lautan bumi?











1 Comment by: alex from China
30 April 2005, 7:11 am
Opera 8.0 on
Linux
Using
hmm… ini bukannya udah ada warning dari dulu?
nggak basi sih..
bagus buat referensian gw
)
(eh.. KBM Geofisika cocok nggak ya?
2 Comment by: yonky from Singapore
30 April 2005, 9:53 am
Firefox 1.0.2 on
Windows Server 2003
Using
gak tau juga
3 Comment by: yonky from Singapore
18 June 2005, 5:44 pm
Internet Explorer 6.0 on
Windows XP
Using
testing